KONTROL

DPC KHUSUS WANITA GRANAT GORONTALO DUKUNG KEPMEN PPPA SOAL LANSIA

Laporan : Jaringan Berita SMSI
Editor : Ismail Abas/ Mahmud Marhaba.

JAKARTA (KP) – Perempuan lansia di Indonesia berpotensi mengalami kekerasan dan diskriminasi ganda, baik karena statusnya sebagai perempuan maupun karena statusnya sebagai penduduk yang usianya sudah lanjut. Selain karena secara fisik mereka sudah banyak mengalami kemunduran, kenyataan juga menunjukkan masih rendahnya pemahaman dari masyarakat tentang lansia. Namun, masih banyak lansia sehat yang produktif dan dapat diberdayakan bagi masyarakat. Oleh karenanya, diperlukan kepedulian serta kebijakan pemerintah dan masyarakat terutama peranan keluarga untuk melindungi Lansia dari berbagai diskriminasi dan eksploitasi.
Hal ini disampaikan Menteri PPPA, Yohana Yembise, melalui Deputi Perlindungan Hak Perempuan Kemen PPPA, Vennetia R. Danes, dalam press releasenya nomor: B-256/Set/Rokum/MP 01/12/2018 yang disampaikan ke media ini, Sabtu (08/12/2018).
“Perempuan Lansia selalu dikonotasikan sebagai kelompok rentan yang selalu bergantung pada orang lain dan menjadi beban tanggungan keluarga, masyarakat dan negara. Padahal, masih banyak perempuan lansia yang tetap sehat, produktif dan mandiri di usia tuanya. Mereka adalah kelompok masyarakat yang harus terus diberdayakan, karena mereka mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan kelompok penduduk lainnya dalam pembangunan. Perlu penanganan khusus pada Lansia perempuan karena karakteristik mereka cenderung berbeda dengan lansia laki-laki. Masih ada beberapa diskriminasi terhadap lansia perempuan baik dari aspek budaya, politik, kesehatan, ekonomi dan sosialnya, yang kesemuanya ini dapat berpotensi terjadinya kekerasan,” pungkas Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Yohana Yembise pada kegiatan Pertemuan Akbar 1000 Lansia, Gerakan Sayangi Lansia: ‘Semua Lansia Adalah Orang Tua Kita’ di Teater Garuda Taman Mini, Jakarta.

Dalam kegiatan “Gerakan Sayangi Lansia” juga dilakukan Talkshow terkait perlindungan Lansia dengan narasumber Maliki dari Bappenas dan Sukamdi dari Universitas Gadjah Mada.
“Kegiatan ini dilaksanakan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat agar berperan aktif melindungi perempuan Lansia khususnya dan Lansia umumnya.
Selain meningkatkan perlindungan perempuan Lansia, juga diharapkan masyarakat dapat melakukan pemberdayaan Lansia di semua bidang sesuai potensi dan kemampuannya,” ujar Deputi Perlindungan Hak Perempuan Kemen PPPA, Vennetia R. Danes.

Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2015 jumlah lansia di Indonesia sebanyak 21.609.717 juta jiwa. Jumlah lansia perempuan lebih banyak daripada lansia laki-laki. Berdasarkan data hasil Survey Pengalaman Hidup Nasional Perempuan (SPHNP) 2016 bahwa perempuan usia 50-64 tahun masih mengalami berbagai kekerasan, seperti kekerasan ekonomi 17,25%, kekerasan fisik yang dilakukan oleh pasangan 11,18%, kekerasan yang dilakukan selain pasangan 4,92%, kekerasan seksual 24,43%.

Ketua Organisasi Lansia Dahlia Senja, Ratna Hapsari mengatakan bahwa Lansia masih mengalami berbagai kekerasan dalam kehidupan sehari – harinya. Ratna bercerita, ketika organisasinya melakukan kunjungan kunjungan ke rumah – rumah Lansia, Ratna menemukan bahwa Lansia masih mengalami kekerasan, baik secara verbal, tindakan,dan pembebanan pekerjaan rumah tangga berlebihan oleh keluarganya. Kepedulian anggota keluarga terhadap lansia masih sangat sedikit. Hal ini terbukti dengan masih adanya perkataan kasar dan kurangnya kesabaran anggota keluarga dalam merawat Lansia. Lansia seolah – olah menjadi beban yang merepotkan bagi keluarga. Oleh karenanya, organisasinya melakukan sosialisasi dan memberikan pemahaman agar para keluarga lebih peduli terhadap kondisi dan kebutuhan Lansia.

“Kepedulian serta kebijakan Pemerintah dan masyarakat terutama peranan keluarga dalam melindungi Lansia sangat dibutuhkan. Kebutuhan tersebut antara lain jaminan kesehatan, jaminan kesejahteraan sosial, dan jaminan perlindungan hukum. Kebijakan program pembangunan yang dilakukan seharusnya lebih khusus dan terfokus, salah satunya untuk memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan penduduk lansia perempuan. Saya juga mengapresiasi Bupati Kepahiang, Bapak Hidayatullah Syahid yang sudah membentuk Lansia Maju Mandiri Sejahtera. Sayangi Lansia, semua lansia adalah orang tua kita. Mari bersama hapuskan kekerasan terhadap lansia,” tutup Menteri Yohana.
Kepedulian terhadap Lansia mendapat apresiasi dari Ketua DPC Khusus Wanita GRANAT Gorontalo, Ati Modjo. Dirinya menegaskan kepedulian kepada Lansia wajib menjadi tanggungjawab seluruh elemen masyarakat. Pemerintah daerah pun wajib memfasilitasi penanganan terhadap Lansia.
“Mereka membutuhkan perhatian dari kita semua, lebih khusus lagi keluarga mereka. Jangan ada diskriminasi terhadap Lansia,” ungkap Ati Modjo saat dimintai tanggapannya terkait penanganan Lansia di daerah.
Ati Modjo yang terus melakukan sosialisasi kepada setia wanita di daerahnya atas pentingnya wanita khususnya ibu-ibu untuk memperhatikan gerak gerik anak-anaknya yang memiliki tingkah aneh akibat penyalahgunaan Narkoba, Lem dan menggunakan Komix secara berlebihan itu menegaskan jika perhatian terhadap Lansia juga merupakan hal yang penting dilakukan oleh kita semua.
“Mereka wajib diperlakukan dengan baik, sebagaimana mereka telah memperlakukan kita dengan penuh kasih sayang saat kita kecil hingga dewasa tanpa ada ada keluhan sedikit pun,” ungkap Ati Modjo sambil berharap agar Tim Penggerak PKK dan Dharma Wanita disemua tingkatan untuk berperan aktif terhadap program kerja dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI dalam hal pengamanan Lansia dia daerah#(KP)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker