KONTROL

TERLIBAT TERORIS DI ASIA TENGGARA DAN INDONESIA, MOH NASIR ABAS UNGKAP PERJALANAN HIDUPNYA

Laporan : Aldiyansah Kuice

Editor : Ismail Abas/ Mahmud

 

GORONTALO (KP) – Forum Group Discussion (FGD) Bertema “Membedah Paham Radikal di provinsi Gorontalo menurut Perspektif Hukum” bertempat di Ball Room Maqna Hotel Kota Gorontalo dengan moderator Musri Qudrat Moha, Kamis (15/11/2018).

Dir Intelkam Kombes Pol. Ahmad Yani, MH, mewakili Kapolda Gorontalo mengucapkan selamat datang dan ungkapan terima kasih kepada para narasumber dan undangan yang bersedia hadir dalam kegiatan tersebut.

Dalam Pemaparannya, Dir Intel Polda Gorontalo mengatakan bahwa Gorontalo termasuk wilayah yang kondusif sesuai riset yang dilaksanakan oleh beberapa lembaga wilayah Gorontalo.

“Wilayah Gorontalo termasuk wilayah yang kondusif namun sesuai dengan riset yang di laksanakan oleh beberapa lembaga wilayah Gorontalo termasuk daerah yang cenderung rawan akan bertumbuhnya paham radikal hingga paham terorisme. Jajaran Polda Gorontalo bekerja sama dengan BNPT, Densus 88/AT Polri serta Polda Sulut sudah beberapa kali menangkap jaringan/sel-sel teroris di wilayah Gorontalo,” Ungkap Dir Intelkam Kombes Pol. Ahmad Yani, MH.

Di Provinsi Gorontalo terdapat 3 orang Napi Terorisme yang sedang menjalani hukuman yaitu 2 orang berada di Lapas kelas IIA Kota Gorontalo dan 1 orang di Lapas kelas IIB Boalemo. Dengan adanya 3 napi tersebut Dir Intelkam Kombes Pol menghimbau masyarakat agar tetap waspada meski wilayah Gorontalo sudah kondusif.

“Dari hasil evaluasi terhadap sikap dan perilaku ke 3 NapiTer tersebut, 2 orang yang di Lapas kelas IIA Kota Gorontalo perilakunya sudah mulai normal sedangkan 1 orang Napi yang di Lapas kelas IIB Boalemo sikap dan perilakunya terpantau belum sepenuhnya normal, hal ini di tunjukkan dengan tidak bersedianya Napi tersebut memberikan penghormatan kepada bendera Merah Putih maupun mengikuti upacara memperingati HUT Kemerdekaan RI yang dilaksanakan di Lapas.” Jelas Dir Intelkam Kombes Pol. Ahmad Yani, MH.

Pemaparan juga disampaikan Direktur Perlindungan, Deputi I BNPT Brigjen Pol. Dra. Herwa Chaidir.
Menurutnya, BNPT merupakan lembaga Vertikal yang tidak memiliki satuan di wilayah Provinsi maupun Kabupaten/Kota seperti lembaga lain. Di tingkat Provinsi dibentuk Forum Komunikasi Pencegahan Terorisme (FKPT) yang pengurusnya direkrut dari perwakilan masyarakat, akademis dll. Sesuai Survey Nasional yang di laksanakan oleh BNPT bekerja sama dengan Balitbang Kemenag serta The Nusa Institute dan Lembaga Daulat Bangsa mengenai Daya Tangkal Masyarakat Terhadap Radikalisme, menghasilkan 5 Provinsi dengan potensi Radikalisme tertinggi yaitu, Bengkulu, Gorontalo, Sulawesi Utara, Lampung, Kalimantan Utara, Mari kita persempit ruang gerak teroris maupun sel-selnya dari NKRI.

Menariknya, dalam FGD juga menghadirkan DR Moh Nasir Abas yang menjelaskan aktifitasnya selama dia masih terlibat langsung dalam gerakan terorisme di Asia Tenggara.

“Dulu saya memang terlibat langsung dalam gerakan terorisme di Asia Tenggara termasuk di Tanah Air, bahkan tokoh-tokoh teroris di Indonesia seperti Imam Samudera, Amrozi dan lainnya merupakan murid-murid saya, namun saya bersyukur saat ini saya sudah sadar kembali akan perbuatan yang saya lakukan bersama rekan-rekan saya waktu itu adalah suatu kekeliruan. Pelaku Teror cenderung terpapar dengan paham radikal dari luar negeri seperti Afganistan, Iraq, Suriah dan lainnya,” ungkap Moh Nasir Abas.

Saat ini para Teroris sengaja membenturkan masyarakat dengan pemerintah dengan cara membentuk opini di masyarakat bahwa pemerintah RI di anggap kafir atau anti Islam. Yang di anggap musuh oleh para teroris. Dalam penjelasnya banyak pelaku teror yang merupakan oknum Ustad/Ulama.

“Banyak pelaku teror yang merupakan oknum ustadz/ulama karena pemikiran mereka sudah terpapar oleh paham radikalisme yang kuat. Para teroris cenderung merekrut anak muda/mahasiswa yang kritis dan cerdas, karena lebih mudah untuk diisi pemikirannya dengan paham radikal.” tegasnya.

Dalam pemaparan terakhir yang disamapikan Prof Dr Ani Hasan mengatakan sesuai riset yang dilaksanakannya selama beberapa tahun ini para siswa-siswi SMA sederajat sudah semakin bersimpati.

Para siswa-siswi SMA sederajat sudah semakin banyak yang bersimpati dan mengidolakan tokoh-tokoh teroris, bahkan sesuai riset yang dilakukan oleh Prof Ani tersebut tokoh teroris di Indonesia yaitu Santoso pernah datang ke wilayah Gorontalo dan mengajak siswa yang menjadi obyek riset tersebut masuk ke hutan untuk menanamkan paham Radikal.

“Pemikiran Radikal dilingkungan dunia pendidikan banyak terjadi karena para siswa maupun mahasiswa ikut-ikutanan kegiatan kajian-kajian yang cenderung menanamkan paham Radikalisme. Hal ini tentunya sangat berbahaya bagi generasi penerus bangsa, pihak yang berperan dalam mengurai potensi radikalisme di tinjau dari kepercayaan terhadap hukum adalah Kepolisian, Pemerintah, Keluarga, Organisasi Masyarakat, Pemimpin Agama, Organisasi Mahasiswa,” Tutupnya dalam kegiatan tersebut.#(KP)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker